Makam Raja Bali Jejak Sejarah Raja Jembrana VI di Desa Kejawar
Makam Raja Bali, yang lebih dikenal sebagai Makam Raja Jembrana VI, merupakan salah satu potensi wisata sejarah dan budaya yang berada di Desa Kejawar, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Makam ini menjadi bagian penting dari kekayaan sejarah Desa Kejawar sekaligus menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang memiliki nilai historis dan hubungan erat antara Banyumas dengan Bali.
Tokoh yang dimakamkan di kompleks tersebut adalah I Gusti Ngurah Made Pasekan, Raja Jembrana VI yang memerintah Jembrana pada periode 1855–1866. Dalam catatan sejarah, beliau pernah menjalankan tugas sebagai regent atau setingkat bupati di Jembrana. Pada masa pemerintahannya terjadi dinamika politik dengan pemerintah kolonial Belanda yang kemudian menyebabkan beliau ditangkap dan diasingkan ke wilayah Banyumas.
Jejak Sejarah di Desa Kejawar
Setelah tiba di Banyumas, I Gusti Ngurah Made Pasekan memperoleh perhatian dari K.P.A. Mertadiredja, Bupati Banyumas pada masa itu. Melalui upaya Bupati Banyumas, beliau mendapatkan kebebasan terbatas dengan pengawasan pemerintah. Selanjutnya, diberikan sebidang tanah di wilayah Desa Kejawar sebagai tempat tinggal bersama keluarganya. I Gusti Ngurah Made Pasekan beserta keluarganya kemudian menetap di Kejawar hingga akhir hayatnya.
Keberadaan makam tersebut menjadi bukti adanya hubungan sejarah yang menarik antara Jembrana, Bali, dan Banyumas. Jauh dari tanah asalnya di Pulau Bali, jejak kehidupan Raja Jembrana VI justru menjadi bagian dari sejarah lokal Desa Kejawar yang hingga kini masih dapat ditemui dan dikenang oleh masyarakat.
Masyarakat sekitar lebih familiar menyebut kompleks tersebut sebagai Makam Raja Bali. Kompleks makam ini juga menjadi tempat yang masih dikunjungi oleh keluarga atau keturunan Raja Jembrana VI untuk melakukan ziarah dan mengenang leluhur mereka. Rombongan keluarga dari trah Raja Jembrana VI diketahui melakukan kegiatan napak tilas secara berkala, salah satunya kembali dilakukan pada tahun 2023 setelah sempat terhenti selama masa pandemi.
Warisan Sejarah dan Budaya
Keberadaan Makam Raja Jembrana VI tidak hanya memiliki nilai sebagai tempat pemakaman, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan edukasi. Kompleks makam menjadi salah satu peninggalan yang dapat digunakan untuk mengenalkan kepada generasi muda mengenai perjalanan sejarah lokal serta keterkaitan sejarah antara masyarakat Banyumas dan Bali.
Kajian mengenai pengembangan wisata budaya di Desa Kejawar juga menempatkan Makam Raja Bali sebagai salah satu daya tarik wisata sejarah yang bersifat fisik (tangible heritage), bersama dengan beberapa peninggalan sejarah dan budaya lainnya di Desa Kejawar.
Dengan demikian, Makam Raja Bali memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata sejarah dan budaya Desa Kejawar. Pengembangan tersebut dapat diarahkan pada kegiatan edukasi sejarah, wisata ziarah, dokumentasi sejarah lokal, serta pengenalan hubungan historis antara Banyumas dan Jembrana.
Pelestarian dan Pengembangan Potensi Wisata
Upaya menjaga keberadaan kompleks makam juga terus dilakukan. Salah satu bentuk perhatian terhadap lingkungan makam adalah penanaman 23 bibit pohon tabebuya di area makam dan sepanjang jalan menuju kompleks makam pada tahun 2024. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendukung penghijauan sekaligus meningkatkan keindahan lingkungan sekitar makam.
Pengelolaan dan pelestarian Makam Raja Bali dapat menjadi bagian dari upaya Desa Kejawar dalam mengembangkan potensi wisata berbasis sejarah dan budaya. Keberadaan lingkungan desa yang asri, peninggalan sejarah, tradisi masyarakat, serta potensi budaya lainnya dapat dikembangkan secara terpadu sehingga memberikan pengalaman wisata yang lebih bermakna bagi pengunjung.
Menelusuri Sejarah, Mengenal Kejawar
Makam Raja Bali menjadi salah satu pengingat bahwa Desa Kejawar memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan beragam. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya dapat melihat sebuah kompleks makam, tetapi juga dapat mengenal kisah perjalanan seorang Raja Jembrana VI yang pernah menjadi bagian dari sejarah Banyumas.
Dengan pelestarian yang berkelanjutan, penyediaan informasi sejarah yang baik, serta pengelolaan wisata yang melibatkan masyarakat setempat, Makam Raja Bali di Desa Kejawar memiliki peluang untuk menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya yang memperkuat identitas Desa Kejawar.
Makam Raja Bali — sebuah jejak sejarah yang menghubungkan Banyumas dan Jembrana, sekaligus menjadi bagian dari kekayaan budaya Desa Kejawar.